|
|
Kamis, 24 Maret 2011
makna galungan
SUKU OSING
SUKU OSING
LETAK GEOGRAFIS
Suku Using terletak di Jawa Timur dan kurang lebih menempati separuh dari wilayah Banyuwangi. Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur di Indonesia. Kabupaten ini terletak di wilayah ujung paling timur pulau Jawa. Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Situbondo. Sebelah timur berbatasan dengan selat Bali. Sebelah selatan berbatasan dengan samudra Hindia. Dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Jember dan kabupaten Bondowoso.
Pelabuhan Ketapang menghubungkan pulau Jawa dengan pelabuhan Gilimanuk di Bali. Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Masyarakat Banyuwangi yang masih memiliki budaya asli suku Using yakni Desa Kemiren, kecamatan Glagah, dan kabupaten Banyuwangi. Wilayah desa Kemiren termasuk dari daerah daratan yang banyak sumber-sumber air atau yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai belik
SEJARAH
Suku Osing adalah penduduk asli dari Banyuwangi yang telah menjadi penduduk mayoritas. Osing lahir akibat runtuhnya kerajaan Majapahit. Pada waktu itu orang-orang Majapahit mengungsi kebeberapa tempat, yaitu lereng gunung Bromo (suku Tengger), Blambangan (suku Osing) dan Bali, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1478 M. Kerajaan yang didirikan oleh masyarakat Osing adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha.
SISTEM RELIGI
Pada awal terbentuknya masyarakat Osing, kepercayaan pertama suku Osing adalah ajaran Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Seiring dengan berkembangnya kerajaan Islam di Pantura menyebabkan agama Islam menyebar dengan cepat dikalangan suku Osing, sehingga pada saat ini agama masyarakat Osing sebagian besar memeluk agama Islam. Selain agama Islam, masyarakat suku Osing juga masih memegang kepercayaan lain seperti Saptadharma yaitu kepercayaan yang kiblat sembayangnya berada di timur seperti orang Cina, Pamu (Purwo Ayu Mandi Utomo) yaitu kepercayaan yang masih bernafaskan Islam. Sistem religi yang ada di masyarakat Osing ada yang mengandung unsur Animisme, Dinamisme, dan Monotheisme.
BAHASA
Bahasa asli suku Osing merupakan turunan langsung dari bahasa Jawa kuno, namun dialek bahasa Osing berbeda dengan bahasa Jawa. Bahasa Osing mengenal sisem ajaran yang khas yaitu kata-kata yang didahului dengan konsonan (B, D, G) serta di beri sisipan (Y), contohnya : abang menjadi abyang, abah menjadi abyah.
MATA PENCAHARIAN
Macam-macam mata pencaharian masyarakat suku Osing yaitu dengan keadaan topografi daerah Banyuwangi terutama desa Kemiren yang cukup tinggi maka macam-macam mata pencaharian di masyarakat Kemiren adalah Pegawai Negeri, ABRI, Guru, Swasta, Pedagang, Petani, Peternak, Pertukangan, Buruh Tani, Pensiunan, Nelayan, Pemulung, Buruh Biasa, dan Buruh Jasa.
Macam-macam jenis hasil mata pencahariannya yaitu hasil pertanian yang terdiri dari atas padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kentang, tomat, bawang, kacang panjang, terong, timun, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat hasil perkebunan yang terdiri atas kelapa, kopi, cengkeh, randu, mangga, durian, pisang, rambutan, pepaya, apokat, jeruk, dan blimbing. Dan ada terdapat juga hasil perindustrian yang terdiri atas tenunan, atau plismet, ukir-ukiran, dan kerajinan barang lainnya.
Dalam bermata pencaharian masyarakat suku Osing terdapat teknik-teknik dalam bermata pencaharian yaitu cara kerja yang dilakukan masyarakat suku Osing yaitu seperti dalam teknik pertanian yaitu membajak, dan pembasmian hama dan teknik dalam home industri yaitu menenun, dan mengukir.
ORGANISASI SOSIAL
Pola perkawinan. Masyarakat suku Osing di Banyuwangi mempunyai tradisi perkawinan yang terpengaruh gaya Jawa, Madura, Bali, bahkan pengaruh dari suku lain di luar Jawa dalam hal gaun pengantinnya. Di lingkungan masyarakat suku Osing Banyuwangi berlaku adat perkawinan dengan melalui tahap-tahap sebagai berikut : (1) tahap perkenalan; (2) tahap meminang; (3) tahap peresmian perkawinan. Selain dari tahap-tahap tersebut, masyarakat suku Osing Banyuwangi juga mengenal adat perkawinan yang cukup menarik, yaitu Adu Tumper dan Perang Bangkat.
Sistem organisassi sosial. Suku Osing berbeda dengan suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya suku Bali. Pola kekerabatan di masyarakat suku Osing adalah bilateral yang lebih mengararah pada patrilineal. Sistem lembaga masyarakat suku Osing antara lain kepala desa, sekretaris desa, LMD, kaur pemerintahan, kaur kesra, kaur pembangunan, dan kaur keuangan.
KESENIAN
Suku Osing banyak memiliki kesenian yang unik dan sarat akan magis. Kesenian suku Osing adalah kesenian yang memiliki keaneragaman corak budaya, sebab dalam keseniannya suku Osing banyak dipengaruhi oleh Bali, akan tetapi corak keseniannya juga dipengaruhi oleh Madura dan Eropa. Kesenian suku Osing diantaranya adalah :
1. Tarian yaitu tari gandrung door, tari jejer dawuh, tari jejer gandrung, tari sumber wangi, tari padang wulan, tari jaran goyang, tari kunthulan, tari barong, tari seblang, tari jengger, tari jaran kecak.
2. Lagu daerah yaitu padang wulan, jejer gandrung, jaran ucul.
3. Seni musik dan instrumen musik yaitu angklung caruk, angklung paglak, karawitan, selentem, peking, gong, ketuk, kluncing, biola, sason, saron, gamelan Osing.
SISTEM PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Pengetahuan tentang alam sekitar (dongeng, legenda mitos), pengetahuan tentang flora, makanan khas, obat-obatan.
Perlengkapan :
1. Perlengkapan berlindung :
· Jenis rumah dan bentuk rumah : tikel balung, baresan, serocokan.
· Bagian dan fungsi ruangan rumah : amperan, bale,/jerungan, pawon.
2. Perlengkapan alat mata pencaharian : teter, singkal, patuk sangkan, boding, atau parang, kilung.
3. Alat perlengkapan rumah tangga.
4. Alat perlengkapan dalam ritual keagamaan.
5. Alat transportasi meliputi mobil pick up yang digunakan untuk mengangkut barang-barang dan juga orang.
6. Senjata : pedang, keris, cundrik, tolop, tolop sengkop.
ASPEK PEMBANGUNAN
Pemerintah Banyuwangi menyadari potensi dasar pada budaya suku Osing dengan menetapkan desa Kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus dilestarikan agar dapat memelihara nilai-nilai budaya suku Osing.
NILAI BUDAYA
Nilai budaya yang terdapat pada suku Osing adalah menjunjung tinggi kegotong royongan, kerja bakti, arisan, silaturrahmi atau saling berkunjung dan sumbang menyumbang.
persebaran suku osing
View Full Version : Pariwisata Seni-Budaya
be4rt
04-23-2010, 05:14 PM
(http://pandalanememory.blogspot.com/2008/11/banyuwangi-budaya-khas-osing.html) Banyuwangi Budaya kas Osing
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal kuda (http://pandalanememory.blogspot.com/2008/08/mengenal-tapal-kuda.html).
Karakter Banyuwangi lebih kurang bisa dilihat dari makanan khasnya. Rujak itu dari Sidoarjo sedangkan Soto dari Madura. Disini rujak dan soto dicampur, jadilah rujak soto khas Banyuwangi. Atau pecel dicampur rawon jadilah pecel rawon yang cuma ada di Banyuwangi.
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi.
Topografi Banyuwangi yang unik didukung oleh kekuatan karakter masyarakat multikultur yang jumlahnya sekitar 1,5 juta jiwa dan tersebar diwilayah seluas 5.782,50 km2. Ada tiga elemen masyarakat yang secara dominan membentuk stereotype karakter Banyuwangi yaitu Jawa Mataraman, Madura – Pandalungan ( Tapal Kuda ) (http://pandalanememory.blogspot.com/2008/08/mengenal-tapal-kuda.html) dan Osing.
Persebaran tiga entitas (http://id.wikipedia.org/wiki/Entitas) ini bisa ditelisik dengan karakter wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataraman lebih banyak mendominasi daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo dan Tegalsari. Sedangkan masyarakat Madura lebih dominan didaerah gersang seperti di kecamatan Wongsorejo, Muncar dan Glenmore. Sementara masyarakat Osing sendiri dominan di wilayah subur di sekitar Banyuwangi kota, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring dan Genteng.
Walaupun menjadi etnis khas Banyuwangi, secara proporsi, penduduk suku Osing bukan mayoritas di 24 kecamatan. Tidak ada data pasti yang menyebutkan berapa jumlah suku Osing di Banyuwangi. Namun sebagai gambaran, jumlah warga Osing sekitar 20 % dari total populasi. Terbanyak Jawa ( 67 % ) dan sisanya Madura ( 12 % ) dan suku lain ( 1 % ).
Meski berkelompok dalam kantong wilayah tertentu, masyarakat Osing tidak bersifat ekslusif seperti masyarakat Tengger yang hidup di dataran tinggi Tengger ( dekat gunung Bromo ) atau masyarakat Baduy di Banten. Osing sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsur kebudayaan lain.
Karakter egaliter menjadi ciri yang sangat dominan dalam masyarat Osing. Ini tampak dalam
bahasa Osing yang tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa atau bahasa Madura. Struktur masyarakat Osing pun tidak berorientasi pada priayi seperti orang Jawa juga tidak pada kyai seperti orang Madura dan tidak juga pada Ksatria seperti kasta orang Bali ( Heru SP Saputra, Shrintil, 2007 ).
Masyarakat Banyuwangi beragama Islam, tetapi karakter sinkretisme agama dan budayapun kental.
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal kuda (http://pandalanememory.blogspot.com/2008/08/mengenal-tapal-kuda.html).
Karakter Banyuwangi lebih kurang bisa dilihat dari makanan khasnya. Rujak itu dari Sidoarjo sedangkan Soto dari Madura. Disini rujak dan soto dicampur, jadilah rujak soto khas Banyuwangi. Atau pecel dicampur rawon jadilah pecel rawon yang cuma ada di Banyuwangi.
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi.
Topografi Banyuwangi yang unik didukung oleh kekuatan karakter masyarakat multikultur yang jumlahnya sekitar 1,5 juta jiwa dan tersebar diwilayah seluas 5.782,50 km2. Ada tiga elemen masyarakat yang secara dominan membentuk stereotype karakter Banyuwangi yaitu Jawa Mataraman, Madura – Pandalungan ( Tapal Kuda ) (http://pandalanememory.blogspot.com/2008/08/mengenal-tapal-kuda.html) dan Osing.
Persebaran tiga entitas (http://id.wikipedia.org/wiki/Entitas) ini bisa ditelisik dengan karakter wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataraman lebih banyak mendominasi daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo dan Tegalsari. Sedangkan masyarakat Madura lebih dominan didaerah gersang seperti di kecamatan Wongsorejo, Muncar dan Glenmore. Sementara masyarakat Osing sendiri dominan di wilayah subur di sekitar Banyuwangi kota, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring dan Genteng.
Walaupun menjadi etnis khas Banyuwangi, secara proporsi, penduduk suku Osing bukan mayoritas di 24 kecamatan. Tidak ada data pasti yang menyebutkan berapa jumlah suku Osing di Banyuwangi. Namun sebagai gambaran, jumlah warga Osing sekitar 20 % dari total populasi. Terbanyak Jawa ( 67 % ) dan sisanya Madura ( 12 % ) dan suku lain ( 1 % ).
Meski berkelompok dalam kantong wilayah tertentu, masyarakat Osing tidak bersifat ekslusif seperti masyarakat Tengger yang hidup di dataran tinggi Tengger ( dekat gunung Bromo ) atau masyarakat Baduy di Banten. Osing sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsur kebudayaan lain.
Karakter egaliter menjadi ciri yang sangat dominan dalam masyarat Osing. Ini tampak dalam
bahasa Osing yang tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa atau bahasa Madura. Struktur masyarakat Osing pun tidak berorientasi pada priayi seperti orang Jawa juga tidak pada kyai seperti orang Madura dan tidak juga pada Ksatria seperti kasta orang Bali ( Heru SP Saputra, Shrintil, 2007 ).
Masyarakat Banyuwangi beragama Islam, tetapi karakter sinkretisme agama dan budayapun kental.
be4rt
04-23-2010, 05:14 PM
Banyuwangi dan gandrung
Banyuwangi merupakan kawasan yang terdapat paling timur pulau jawa dekat dengan pulau Bali. Wilayah ini terluas dari daerah-daerah lainnya di Jawa Timur. Bisa diketahui juga potensi budaya yang ada di Banyuwangi salah satunya adalah tari gandrung.
Sejak sekitar tujuh tahun terakhir, Dinas Pariwisata dan seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) yang didukung Pemkab Banyuwangi terlihat intensif mengelola gandrung, sebuah seni pertunjukan berbasis tari-nyanyi mirip tayub, gambyong, lengger, teledhek, atau cokek di daerah lain, untuk menyemarakkan pariwisata di daerah itu. Bahkan, melalui SK Bupati, sejak Desember 2003 gandrung resmi menjadi mascot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung yang dipajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemkab Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat: Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat.
Keputusan politik (regulasi) dan aktivitas promosi itu direalisasi memalui beberapa kali seminar, sarasehan, dan workshop baik oleh Dinas Pariwisata setempat maupun DKB yang diadakan untuk itu. Tetapi, beberapa forum itu ternyata juga merekomendasi bahwa gandrung yang dimaksudkan adalah pertunjukan gandrung yang merepresentasikan identitas Using, suatu komunitas etnik yang disebut-sebut sebagai penduduk awal Banyuwangi, pewaris Menakjinggo, dan sisa-sisa perang Paregreg dan Puputan Bayu. Sebuah identifikasi yang memperoleh kekuatan politis sejak tahun 2000 ketika artikulasi etnisitas (kedaerahan), dalam ruang bernama otonomi daerah, memperoleh ruang bebas dalam percaturan politik di Banyuwangi. Melalui berbagai forum itu pula kedua intitusi kebudayaan tersebut juga menyusun kategori-kategori Using dan non-Using baik dalam lagu, tari, maupun sejarah; dalam konteks yang terakhir ini narasi Menakjinggo versi Jawa pun diubah menjadi versi Blambangan.
Dalam sebuah buku yang diterbitkan DKB 2003 disebut bahwa:“Kesenian gandrung tidak lain adalah gambaran perlawanan kebudayaan sebuah masyarakat (Using). Perlawanan terhadap berbagai ancaman, baik yang bersifat fisik maupun pencitraan negatif yang berulang kali terjadi
dalam kesejarahan masyarakat Using.”(hal. 62). Dan gambar perlawanan itu hanya tampak dalam sebuah pertunjukan yang menyajikan babak-babak secara sempurna (jejer, paju, dan seblang-seblang), lagu-lagu “asli” gandrung atau lagu-lagu Using, tari ukir-kawin atau prapatan, musik bukan Jawa dan bukan pula Bali , dan bersih dari minuman keras.
Bukan itu saja, konservasi tradisi itu juga disosialisasi dan dikukuhkan melalui pelatihan reguler penari gandrung yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan DKB selama tiga bulan setahun sekali. Pelatihan yang telah menelorkan 60 penari (dari 2 angkatan), 12 di antaranya pentas secara professional untuk memenuhi tanggapan di tengah-tengah masyarakat ini dimaksudkan untuk membekali pakem pertunjukan yang merepresentasikan sejarah perlawanan Using menghadapi berbagai tekanan structural dan cultural yang pernah menimpa komunitas itu di masa lalu.
Komunitas Osing, begitu hasil-hasil penelitian menyebutkan, mempunyai sejarah panjang dimana mereka berada dalam tekanan structural politik dan cultural yang menyudutkan. Majapahit, Demak, Mataram, Buleleng, dan VOC adalah pusat-pusat kekuasaan politik yang menginvasi dan memperebutkan Banyuwangi dengan implikasi serius bagi penduduknya. Perlawanan keras Menakjinggo terhadap Majapahit bukan saja dianggap bukti pembangkangan politik tetapi juga sekaligus mewariskan tafsir, konstruksi, stereotipe, bahkan stigmatis terhadap komunitas Using. Prototipe Menakjinggo dalam kethoprak Mataram yang buruk rupa merupakan pencitraan negatif terhadap Using yang menganggapnya sebagai tokoh legendaries yang selalu membela rakyat. Begitu pula ungkapan-ungkapan “tukang santet”, “pemalas”, “ekslusif”, dan seterusnya yang berkembang luas di kalangan masyarakat Jawa.
Dalam konteks gandrung, problemnya adalah ketika ternyata realitas pertunjukan kesenian ini berbeda – atau berlawanan – dengan yang dibayangkan elite Using di birokrasi dan DKB. Dari belasan pertunjukan yang saya saksikan tidak ada satu pun yang sesuai dengan pakem. Pertunjukan gandrung telah menjadi murni hiburan, terbuka terhadap unsur-unsur luar, dan menjadi milik publik yang dinamis dan plural. Bahkan masa lalu yang dibayangkan birokrasi dan seniman-budayawan tersebut dianggap sebagai keinginan mengada-ada oleh seniman dan pendukung gandrung sendiri. Bagi mereka, pertunjukan gandrung adalah transaksi ekonomi untuk hiburan bersama.
dari :D (http://docs.google.com/Doc?docid=0AePvIlEiMkBfZGQ4a3E2bnZfMzc3bTh2NDN3aw&hl=in)
Banyuwangi merupakan kawasan yang terdapat paling timur pulau jawa dekat dengan pulau Bali. Wilayah ini terluas dari daerah-daerah lainnya di Jawa Timur. Bisa diketahui juga potensi budaya yang ada di Banyuwangi salah satunya adalah tari gandrung.
Sejak sekitar tujuh tahun terakhir, Dinas Pariwisata dan seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) yang didukung Pemkab Banyuwangi terlihat intensif mengelola gandrung, sebuah seni pertunjukan berbasis tari-nyanyi mirip tayub, gambyong, lengger, teledhek, atau cokek di daerah lain, untuk menyemarakkan pariwisata di daerah itu. Bahkan, melalui SK Bupati, sejak Desember 2003 gandrung resmi menjadi mascot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung yang dipajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemkab Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat: Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat.
Keputusan politik (regulasi) dan aktivitas promosi itu direalisasi memalui beberapa kali seminar, sarasehan, dan workshop baik oleh Dinas Pariwisata setempat maupun DKB yang diadakan untuk itu. Tetapi, beberapa forum itu ternyata juga merekomendasi bahwa gandrung yang dimaksudkan adalah pertunjukan gandrung yang merepresentasikan identitas Using, suatu komunitas etnik yang disebut-sebut sebagai penduduk awal Banyuwangi, pewaris Menakjinggo, dan sisa-sisa perang Paregreg dan Puputan Bayu. Sebuah identifikasi yang memperoleh kekuatan politis sejak tahun 2000 ketika artikulasi etnisitas (kedaerahan), dalam ruang bernama otonomi daerah, memperoleh ruang bebas dalam percaturan politik di Banyuwangi. Melalui berbagai forum itu pula kedua intitusi kebudayaan tersebut juga menyusun kategori-kategori Using dan non-Using baik dalam lagu, tari, maupun sejarah; dalam konteks yang terakhir ini narasi Menakjinggo versi Jawa pun diubah menjadi versi Blambangan.
Dalam sebuah buku yang diterbitkan DKB 2003 disebut bahwa:“Kesenian gandrung tidak lain adalah gambaran perlawanan kebudayaan sebuah masyarakat (Using). Perlawanan terhadap berbagai ancaman, baik yang bersifat fisik maupun pencitraan negatif yang berulang kali terjadi
dalam kesejarahan masyarakat Using.”(hal. 62). Dan gambar perlawanan itu hanya tampak dalam sebuah pertunjukan yang menyajikan babak-babak secara sempurna (jejer, paju, dan seblang-seblang), lagu-lagu “asli” gandrung atau lagu-lagu Using, tari ukir-kawin atau prapatan, musik bukan Jawa dan bukan pula Bali , dan bersih dari minuman keras.
Bukan itu saja, konservasi tradisi itu juga disosialisasi dan dikukuhkan melalui pelatihan reguler penari gandrung yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan DKB selama tiga bulan setahun sekali. Pelatihan yang telah menelorkan 60 penari (dari 2 angkatan), 12 di antaranya pentas secara professional untuk memenuhi tanggapan di tengah-tengah masyarakat ini dimaksudkan untuk membekali pakem pertunjukan yang merepresentasikan sejarah perlawanan Using menghadapi berbagai tekanan structural dan cultural yang pernah menimpa komunitas itu di masa lalu.
Komunitas Osing, begitu hasil-hasil penelitian menyebutkan, mempunyai sejarah panjang dimana mereka berada dalam tekanan structural politik dan cultural yang menyudutkan. Majapahit, Demak, Mataram, Buleleng, dan VOC adalah pusat-pusat kekuasaan politik yang menginvasi dan memperebutkan Banyuwangi dengan implikasi serius bagi penduduknya. Perlawanan keras Menakjinggo terhadap Majapahit bukan saja dianggap bukti pembangkangan politik tetapi juga sekaligus mewariskan tafsir, konstruksi, stereotipe, bahkan stigmatis terhadap komunitas Using. Prototipe Menakjinggo dalam kethoprak Mataram yang buruk rupa merupakan pencitraan negatif terhadap Using yang menganggapnya sebagai tokoh legendaries yang selalu membela rakyat. Begitu pula ungkapan-ungkapan “tukang santet”, “pemalas”, “ekslusif”, dan seterusnya yang berkembang luas di kalangan masyarakat Jawa.
Dalam konteks gandrung, problemnya adalah ketika ternyata realitas pertunjukan kesenian ini berbeda – atau berlawanan – dengan yang dibayangkan elite Using di birokrasi dan DKB. Dari belasan pertunjukan yang saya saksikan tidak ada satu pun yang sesuai dengan pakem. Pertunjukan gandrung telah menjadi murni hiburan, terbuka terhadap unsur-unsur luar, dan menjadi milik publik yang dinamis dan plural. Bahkan masa lalu yang dibayangkan birokrasi dan seniman-budayawan tersebut dianggap sebagai keinginan mengada-ada oleh seniman dan pendukung gandrung sendiri. Bagi mereka, pertunjukan gandrung adalah transaksi ekonomi untuk hiburan bersama.
dari :D (http://docs.google.com/Doc?docid=0AePvIlEiMkBfZGQ4a3E2bnZfMzc3bTh2NDN3aw&hl=in)
Dio
04-23-2010, 05:20 PM
sssiippp pak be..... anyar ndoooo
masnawie
04-23-2010, 08:02 PM
semenjak mendapatkan "Bunga" dari Banyuwangi
Pak Be4rt sajake kembali menemukan semangat Hidup.............
nggk ngenekne pameran seni ning bwi tah pak be ?
Pak Be4rt sajake kembali menemukan semangat Hidup.............
nggk ngenekne pameran seni ning bwi tah pak be ?
Koentji
04-23-2010, 08:59 PM
Seolah semangkin cinta dengan Banyuwangi saja Pak Be inniiih.... :D
cakwang
01-12-2011, 06:28 PM
Beberapa waktu yang lalu saya melihat liputan VOA Amerika di Metro TV tentang adanya pameran/promosi wisata Indonesia di New York. Yang bikin saya terharu adalah, dibelakang sang reporter dan narasumber, saya melihat 2 atau 3 wanita sedang menarikan Tari Gandrung lengkap dengan bunyi Kendang Kempul khas Banyuwangi.
Byek, modal njuged gandrung baen wis biso tekan amerika. Isun kapan yoh?:manyun:
Byek, modal njuged gandrung baen wis biso tekan amerika. Isun kapan yoh?:manyun:
noped
01-12-2011, 11:32 PM
Gandrung iki hang kudu di lestarikan, sunatan naggap gandrung, rabi nanggap gandrung, syukuran nanggap gandrung.
Jane nang ndi seh lak pengen hub lewat tlf pengen nanggap gandrung ?
Jane nang ndi seh lak pengen hub lewat tlf pengen nanggap gandrung ?
lareosing.org; Version 4.1.2 Copyright © 2011 vBulletin Solutions, Inc. All rights reserved.
suku osing banyuwangi

Suku Osing
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Suku Using |
|---|
| Jumlah populasi |
| Tidak Diketahui |
| Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan |
| Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur |
| Bahasa |
| bahasa Using |
| Agama |
| Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. |
| Kelompok etnis terdekat |
| suku Jawa, suku Tengger, suku Bali |
Daftar isi[sembunyikan] |
[sunting] Sejarah /Cikal bakal wong osing
Sejarah Suku Using diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. SEJARAH PERANG BAYU ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.
Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Di dalam kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai diislamisasi, suatu perkembangan kultural yang banyak pengaruhnya di kemudian hari dalam membentuk struktur sosial dan kebudayaan. Perebutan Blambangan oleh Mataram dan Bali terus berlangsung dan saling bergantian menguasai hingga berakhir ketika VOC berhasil menduduki Blambangan pada tahun 1765.
Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.
Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.
Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:
“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using.
[sunting] Bahasa
Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan[rujukan?]. kamus boso using[sunting] Kepercayaan
Pada awal terbentuknya masyarakat Using kepercayaan utama suku Using adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Using. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Using juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Masyarakat Using mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.[sunting] Demografi
Suku Using menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,kecamatan singonjuruh,temuguruh Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon. Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya wong Jawa-Kulon).[sunting] Profesi
Profesi utama Suku Using adalah petani, dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.[sunting] Stratifikasi Sosial
Suku Using berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Using tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali, hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya.[sunting] Seni
Kesenian Suku Using sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kesenian utamanya antara lain Gandrung, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong,Kuntulan,kendang kempul,janger,jaranan, jaran kincak,angklung caruk, dan Jedor.[sunting] Desa Adat Kemiren
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku Using yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiren di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Using. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini.[sunting] Lihat pula
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Osing"
Peralatan pribadi
Ruang nama
Varian
Komunitas
Wikipedia
Cetak/ekspor
Kotak peralatan
Bahasa lain
- Halaman ini terakhir diubah pada 16:55, 23 Maret 2011.
- Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
